Tag Archives: Jantung

Shiatsu

Jantungku Sehat Lewat Shiatsu

Gangguan jantung pernah dialami Djufri Chan, 65 tahun, pensiunan TNI AD. Bila gangguan itu datang, dadanya terasa nyeri sekali. Beruntung ia mengenal Nina Radinah Taryaman. Lewat pijat shiatsunya, Djufri merasa nyaman dan sehat. Hingga kini ia hanya ingin ditangani Nina bila mengalami gangguan kesehatan.
Saya sebenarnya sudah kenal Bu Nina sejak tahun 1980. Kebetulan pada tahun itu saya diajak kawan yang mengalami stroke untuk berobat ke rumahnya. Selama dua bulan lamanya, seminggu sekali, saya selalu menemani kawan untuk berobat ke sana.
Hasilnya, hingga kini kawan saya tak pernah lagi mengalami kekambuhan. Dari pengalaman itu, bila ada orang yang mengalami stroke, saya pun lalu mengantarnya ke tempat Bu Nina di Puncak, Bogor, Jawa Barat. Sampai pada akhirnya Bu Nina pun mengangkat saya sebagai anak.
Kisah saya sendiri berawal di tahun 1990. Pada tahun itu saya mengalami serangan jantung. Ceritanya, kawan-kawan dari Amerika Serikat datang ke Indonesia. Mereka mengajak saya untuk bermalam di Bandung.
Selama sepuluh hari di Bandung, saya lupa menjaga pola hidup. Bayangkan saja, dalam sehari saya bisa menghabiskan kopi sebanyak sepuluh gelas. Itu masih ditambah dengan minum wisky pada malam harinya.
Sepulang dari Bandung, saya mengalami sakit seperti masuk angin. Tangan gemetaran dan sedikit kejang-kejang. Oleh istri, tangan saya dibalur dengan obat gosok. Setelah digosok, saya bisa istirahat.
Namun, saat subuh, kembali saya mengalami kejang-kejang dan nyeri di sekitar dada. Kembali istri membaluri tubuh saya dengan obat gosok. Beberapa menit kemudian saya bisa tidur lagi. Sayangnya, itu tak bertahan lama. Kali ini nyeri di dada semakin sakit.
Masuk Rumah Sakit
Karena rasa sakit tak kunjung membaik, saya dibawa anak ke ruah sakit Sumber Waras di Grogol, Jakarta Barat. Selama enam hari saya berada di ruang ICU dan selama sembilan hari di ruang VIP rumah sakit tersebut.
Dari hasil pemeriksaan dokter, saya mengalami penyempitan pembuluh darah. Meski sesekali rasa nyeri masih terasa, pada hari ke-16 saya minta pulang. Saya minta berobat jalan saja karena biaya yang semakin membengkak.
Setelah tiga hari berada di rumah, saya teringat dengan Bu Nina. Saya lalu minta anak untuk mengantar saya ke rumahnya. Sesampai di Puncak, Bogor, saya malah dimarahi.
Kata Bu Nina waktu itu, saya sudah terlalu banyak uang, sakit seperti ini saja berobat ke dokter. Katanya lagi ketika itu, saya tak ingat lagi dengan beliau.
Akhirnya, dengan penuh keibuan, Bu Nina mulai menerapi saya. Awalnya kepala saya dipegang, lalu dipijat-pijat ringan.
Pijatan di kepala selesai, tangan Bu Nina terus bergerak memijat ke daerah leher, tangan, dada, perut, hingga kaki. Sambil memijat, Bu Nina membaca kepribadian saya, dari yang buruk hingga yang baik.
Anehnya, semua terkaannya selalu benar. Rupanya, hanya dengan memegang kepala seseorang Bu Nina bisa tahu kepribadian orang tersebut.
Pada saat sekujur tubuh saya dipijat, saya tidak merasakan sakit apa pun. Namun, ketika tangannya menekan di daerah dada, saya mengalami sakit yang amat sangat, bahkan hingga menjerit-jerit. Menurutnya, di daerah itulah sumber gangguan yang kerap saya alami.
Selama 15 menit berikutnya tubuh saya terus ditekan-tekan. Sesudahnya saya diminta beristirahat selama 5 menit di tempat tidurnya.
Setelah proses pemijatan itu, badan terasa lebih nyaman dan bugar. Saya pun merasa lebih rileks. Ketika itu, selang tiga hari sekali, selama lima kali pertemuan, saya datang untuk dipijat.
Tidak Ada Pantangan
Selama lima kali pertemuan itu, saya merasa tubuh ini kian membaik. Nyeri di dada pun tak pernah saya alami kembali. Begitu pula ketika kontrol ke dokter, kelainan di jantung ini sudah dinyatakan sehat. Dari pengalaman itu, saya selalu berpesan pada anak-anak kalau sakit lagi tolong dibawa ke tempat Bu Nina.
Selama diterapi, saya tidak diberi pantangan apa pun. Ia hanya berpesan agar makan secukupnya, jangan berlebihan. Karena itu, ketika nyeri dada itu timbul lagi, sambil dipijat, saya diminta untuk mengurangi rokok dan makan jeroan yang memang menjadi hobi saya.
Pengalaman lain, tiga minggu lalu saya mengalami kecelakaan sepeda motor di daerah Bogor. Orang yang menolong membawa saya ke rumah sakit PMI di kota itu.
Selama tujuh hari saya dirawat di rumah sakit tersebut. Selama itu pula saya selalu mengalami kegelisahan. Barangkali kegelisahan itu lantaran saya mengalami patah tulang. Pada hari ke-8, saya minta dibawa ke rumah Bu Nina untuk diterapi dengan pijat shiatsu.
Selama tujuh hari pula saya bermalam di rumah Bu Nina untuk menjalani terapi itu. Di rumahnya, saya sering mengalami kembung di perut hingga susah tidur. Bila rasa kembung datang, Bu Nina pun langsung menekan perut saya. Hasilnya, saya kembali bisa istirahat dengan nyaman.
Untuk urusan patah tulang, Bu Nina merekomendasikan temannya yang ahli patah tulang buat menangani saya. Sebab, untuk urusan patah tulang Bu Nina mengaku tak menguasai, ia hanya mampu mengobati organ dalam saja.
Karena itu, sambil terus menerima terapi untuk memperbaiki organ dalam, struktur tulang saya yang patah pun diterapi oleh teman Bu Nina. Hasilnya kini, saya sudah bisa beraktivitas kembali seperti dahulu. @ Hendra Priantono

posted by agus suryanto